Sabtu, 18 Januari 2020

Demi Generasi Emas Indonesia




         Langit Desa Fatukari, Nusa Tenggara Timur begitu cerah. Matahari di tempat ini begitu bersemangat memancarkan sinarnya, layaknya semangat para generasi emas Indonesia yang sedang menuju ke tempat penempaan mereka. Dengan langkah pasti, anak-anak berjalan perlahan menghitung langkah sambil menikmati udara sejuk dari lingkungan mereka. Tak jarang ada yang berlari sambil bercengkerama satu sama lain dengan kawan-kawannya.
            Di antara mereka yang berjalan, terdapat juga para pemahat calon generasi emas itu. Sudah semestinya api mereka yang menyala lebih terang. Mereka diharapkan dapat menjadi pemantik calon generasi emas Indonesia itu. Namun, lain di muka, lain pula di hati. Dalamnya sungai dapat ditebak, tapi dalamnya hati siapa yang tahu.
            Ibu Nita, begitu ia dipanggil dengan singkat. Selain nama keluarga dan nama baptis, ada gelar yang mengikuti namanya setelah ia menyelesaikan pendidikannya dalam bidang yang ia geluti. Sarjana Pendidikan. Itulah cita-citanya sejak dulu. Gelar itu tak mudah untuk diraih dan tak mudah pula menjalani hidup setelah menerima gelar itu.
            Ia teringat hampir dua dasawarsa lalu saat dirinya memutuskan untuk mengajar. Hampir setiap hari ia datang ke rumah kepala sekolah dasar yang ada di desanya, memohon agar dirinya dapat diterima menjadi guru di sekolah itu. Ia yakin akan kemampuannya mendidik para generasi emas Indonesia. Ia juga senang apabila melihat anak-anak di desanya mampu membaca deretan huruf dan menghitung deretan angka.
            Kepala sekolah memutuskan untuk menerimanya, mengingat kebutuhan guru di sekolah. Ibu Nita pun bersukacita menerima kabar itu. Hanya, ia harus siap bila upah yang ia terima setiap bulan jumlahnya lebih kecil dari iuran adat untuk acara di sukunya yang harus dikumpulkan dari setiap keluarga.
            Prestasi demi prestasi ia torehkan melalui ilmu yang ia tanamkan dalam anak didiknya. Setiap lomba tingkat kecamatan, sekolahnya yang menjadi langganan juara. Bahkan, seorang anak didiknya berhasil meraih juara satu lomba pidato tingkat provinsi! Ia juga ikut mengantar anak didiknya ke Sulawesi untuk mewakili provinsi ke kancah nasional hingga memperoleh juara ketiga. Orang-orang pun kagum. Bukan padanya, tetapi kepada anak didiknya serta nama sekolah yang ia bawa. Lalu bagaimana dengannya? Tak ada penghargaan berarti untuknya.
            “Pergi ke Kalimantan sudah, Kak. Hidupmu terjamin. Bos-bos kelapa sawit di sana menjamin semua untuk kita. Gaji besar, tempat tinggal tersedia, jaminan kesehatan, sampai sekolah anak-anak juga mereka tanggung. Lihat sa kami. Dulu waktu kami pergi dari sini, kami tidak punya apa-apa. Sekarang lihat, kami sudah bisa bangun rumah to,” perkataan adiknya terasa membangunkan dia dari mimpi.
“Kalau hanya mengandalkan honor guru yang tidak sedikit ini bisa apa? Kerja dari pagi sampai siang. Pulang sekolah juga masih harus bawa pekerjaan anak-anak ke rumah. Belum lagi persiapan mengajar. Rasanya lebih capek dari kami yang petani. Berhenti saja. Kita cari pekerjaan yang lebih baik.” Suaminya tak satu dua kali memintanya untuk berhenti. Tapi ia enggan. Ia tetap bertahan pada pekerjaan juga generasi emas dari desanya.
“Cinta pada pekerjaan dan tanah ini yang membuat saya bertahan sampai saat ini, Sayang. Saya punya kemampuan di sini. Memang pekerjaan ini tidak dihargai dengan uang yang memadai. Tapi, saya tahu apa yang saya tanam hari ini akan berbuah suatu hari nanti. Saya tak berharap ikut menikmati buah itu. Melihat anak-anak didik yang kelak menjadi orang yang tak menyusahkan orang lain dan bermanfaat bagi negara kita itulah yang menjadi kepuasan bagi saya.” Kata-kata itulah yang selalu menjadi jawabannya setiap suaminya meminta ia berhenti dari pekerjaanya.
“Ah, saya cemburu dengan pekerjaanmu. Kamu lebih mencintai pekerjaanmu yang tak jelas dan tak membawa keuntungan bagimu daripada saya yang sudah mendampingimu seperempat abad ini.”
“Jangan minta saya untuk pilih antara kamu dan pengabdian ini, Sayang. Kamu itu separuh hidup saya, sama juga dengan pekerjaan saya. Kehilangan salah satu akan membuat hidup saya tak lengkap. Saya percaya, sangat percaya kalau Tuhan lihat apa yang sudah saya lakukan ini. Ia tidak tidur. Biarpun rasanya tidak mungkin lagi saya diangkat jadi pegawai negeri karena umur, tapi saya percaya kalau ada hal yang lebih baik yang Tuhan siapkan.”
Tujuh belas tahun sudah ia bertahan dengan semua anjuran yang memintanya untuk berhenti. Tapi berbeda dengan sekarang. Kini ia goyah. Lima anaknya yang beranjak besar tentu membutuhkan uang yang tidak sedikit. Satu anaknya sedang kuliah semester akhir yang tentu membutuhkan banyak uang untuk tuntutan kampus pada mahasiswa semester akhir. Belum selesai pikirannya menimbang bagaimana memenuhi keperluan anaknya, kini satu anaknya telah lulus SMA dan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia tidak mau menunggu kakaknya selesai dulu. Ibu Nita pun tak mau meredupkan semangat anaknya untuk bersekolah. Meski hidup berkekurangan, namun ia bertekad agar anak-anaknya harus punya impian yang tinggi untuk dicapai, tentunya didukung oleh pendidikan yang baik.
Ia menimbang-nimbang dalam hatinya. Umurnya sudah memasuki dua tahun dari kepala empat. Tak mungkin rasanya berharap diangkat menjadi pegawai negeri. Pekerjaan yang ia jalani rasanya seperti menegakkan benang basah. Tak ada gunanya untuk menunggu dan mengharapkan pengangkatan dirinya ke tingkat yang lebih baik. Rasanya ia tak bisa bertahan lagi lebih lama. Kecintaannya pada anak didik dan pekerjaannya mulai meredup seiring dengan kuatnya tangisan anak-anaknya yang meminta agar kebutuhannya dipenuhi.
Sekuat tenaga Ibu Nita melangkahkan kaki dengan berat menuju ruang kepala sekolah. Di tangannya tergenggam sepucuk surat yang tak pernah ia sangka akan ia berikan pada tempat yang ia cintai ini. Entah lembaran ke berapa yang ia pegang. Lembaran-lembaran lainnya sudah basah dengan air mata saat ia tulisi.
Perlahan ia mengetuk pintu.
“Permisi, Bapak.”
“Oh, iya. Ibu Nita, silakan masuk. Ada apa Ibu?” Pak Pius memakai kaca matanya dan mempersilakan Ibu Nita untuk masuk ke ruangannya.
“Begini Bapak, maksud saya datang menghadap Bapak. Emm… sebenarnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Bapak.” Ia mulai memutar otak. Entah hal apa yang harus ia katakan pada sosok yang ia hormati di depannya. Beliau adalah sosok yang membuatnya bertahan belasan tahun dengan upah kecil karena dukungan yang selalu diterimanya. Beliau bukan sekadar pimpinan baginya dan teman-teman guru honorer di SDN Kemiri. Beliau layaknya orang tua dan motivator bagi mereka.
“Iya. Bagaimana Ibu? Ada yang bisa saya bantu?” Pak Pius mengernyitkan dahinya.
“Begini, Bapak. Saya mau mengajukan surat …” Kata-katanya tertahan. Rasanya sulit untuk mengungkapkan bahwa ia mau mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Oh Ibu, tunggu sebentar. Saya baru ingat ada kabar penting dari untuk Ibu dan teman-teman guru honorer yang sudah mengabdi lama.” Pak Pius mendorong kaca mata ke atas rambut putihnya.
Ibu Nita kaget sekaligus penasaran kabar apa yang akan ia terima. Apakah dinas memang sudah berniat memberhentikannya sebelum ia memintanya? Apakah dinas menginginkannya untuk dipindahkan? Atau? Banyak pertanyaan memenuhi pikirannya.
“Begini Ibu. Badan Kepegawaian Daerah beberapa bulan lalu meminta saya memasukkan nama-nama guru yang sudah mengabdi minimal 10 tahun di sini. Nah, kemarin Bapak Bupati rupanya sudah menandatangani SK kontrak daerah tahun ini untuk 120 guru kontrak yang di antaranya ada nama Ibu dan dua teman guru lainnya. Ibu, Pak Idel, dan Pak Jeri sudah resmi menjadi guru kontrak yang digaji lewat kabupaten kita.
“Benarkah Bapak? Saya seperti tidak percaya mendengar kabar yang Bapak sampaikan. Ini harapan saya dan teman-teman guru selama ini,” tanya Ibu Nita untuk memastikan apa yang ia dengar.
“Benar, Ibu. Ibu bisa lihat sendiri SK-nya yang sedang saya baca ini. Ada nama Ibu, Pak Maxi, dan bertiga. Oh iya, karena ini sudah bulan Oktober, gaji bulan-bulan sebelumnya akan dirapel satu kali setelah berkas masuk ke dinas. Saya ucapkan selamat, Ibu. Tuhan mendengar doa dan melihat kecintaan Ibu bagi sekolah ini. Semoga kabar ini bisa menambah semangat Ibu dan teman-teman guru lainnya untuk bekerja dengan lebih baik.”
Sujud dan doa penuh dengan ucapan syukur ia ucapkan lagi saat tiba di rumah. Ia memang telah menanti kabar ini, namun ia tidak pernah menduga kabar ini akhirnya datang pada waktu yang tepat.
Menjelang malam, Ibu Nita sudah selesai menyiapkan makanan untuk seisi rumahnya. Nasi jagung dengan sedikit sayur daun kelor yang ia petik di belakang rumah. Telur dari ayam peliharaan juga dimasaknya untuk lauk malam itu.
Mendengar langkah kaki suaminya yang baru pulang dari kebun, ia bergegas menuju ke luar rumah dan menyambut suaminya. Ia memeluk suaminya dengan erat dan berkata, “Sayang, terima kasih karena kamu sangat mencintai saya. Kamu mendukung keputusan saya untuk bertahan pada pekerjaan ini hingga saya dapat menuai hasilnya bagi keluarga kita. Teruslah bersama saya menjalani kejutan-kejutan lain yang Tuhan sudah siapkan bagi kita.”
Doa, iman, dan cinta akan melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan dunia.


Untuk para pahlawan tanpa tanda jasa di pelosok Indonesia.
Atambua, 21 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Soal Ulangan Harian 1 IPS Kelas III

Kerjakan soal-soal di bawah ini! Memuat…