Langit
Desa Fatukari, Nusa Tenggara Timur begitu cerah. Matahari di tempat ini begitu
bersemangat memancarkan sinarnya, layaknya semangat para generasi emas
Indonesia yang sedang menuju ke tempat penempaan mereka. Dengan langkah pasti,
anak-anak berjalan perlahan menghitung langkah sambil menikmati udara sejuk
dari lingkungan mereka. Tak jarang ada yang berlari sambil bercengkerama satu
sama lain dengan kawan-kawannya.
Di
antara mereka yang berjalan, terdapat juga para pemahat calon generasi emas
itu. Sudah semestinya api mereka yang menyala lebih terang. Mereka diharapkan
dapat menjadi pemantik calon generasi emas Indonesia itu. Namun, lain di muka,
lain pula di hati. Dalamnya sungai dapat ditebak, tapi dalamnya hati siapa yang
tahu.
Ibu
Nita, begitu ia dipanggil dengan singkat. Selain nama keluarga dan nama baptis,
ada gelar yang mengikuti namanya setelah ia menyelesaikan pendidikannya dalam
bidang yang ia geluti. Sarjana Pendidikan. Itulah cita-citanya sejak dulu.
Gelar itu tak mudah untuk diraih dan tak mudah pula menjalani hidup setelah
menerima gelar itu.
Ia
teringat hampir dua dasawarsa lalu saat dirinya memutuskan untuk mengajar.
Hampir setiap hari ia datang ke rumah kepala sekolah dasar yang ada di desanya,
memohon agar dirinya dapat diterima menjadi guru di sekolah itu. Ia yakin akan
kemampuannya mendidik para generasi emas Indonesia. Ia juga senang apabila
melihat anak-anak di desanya mampu membaca deretan huruf dan menghitung deretan
angka.
Kepala
sekolah memutuskan untuk menerimanya, mengingat kebutuhan guru di sekolah. Ibu
Nita pun bersukacita menerima kabar itu. Hanya, ia harus siap bila upah yang ia
terima setiap bulan jumlahnya lebih kecil dari iuran adat untuk acara di
sukunya yang harus dikumpulkan dari setiap keluarga.
Prestasi
demi prestasi ia torehkan melalui ilmu yang ia tanamkan dalam anak didiknya.
Setiap lomba tingkat kecamatan, sekolahnya yang menjadi langganan juara.
Bahkan, seorang anak didiknya berhasil meraih juara satu lomba pidato tingkat
provinsi! Ia juga ikut mengantar anak didiknya ke Sulawesi untuk mewakili
provinsi ke kancah nasional hingga memperoleh juara ketiga. Orang-orang pun
kagum. Bukan padanya, tetapi kepada anak didiknya serta nama sekolah yang ia
bawa. Lalu bagaimana dengannya? Tak ada penghargaan berarti untuknya.
“Pergi
ke Kalimantan sudah, Kak. Hidupmu terjamin. Bos-bos kelapa sawit di sana
menjamin semua untuk kita. Gaji besar, tempat tinggal tersedia, jaminan
kesehatan, sampai sekolah anak-anak juga mereka tanggung. Lihat sa kami.
Dulu waktu kami pergi dari sini, kami tidak punya apa-apa. Sekarang lihat, kami
sudah bisa bangun rumah to,” perkataan adiknya terasa membangunkan dia
dari mimpi.
“Kalau hanya mengandalkan
honor guru yang tidak sedikit ini bisa apa? Kerja dari pagi sampai siang.
Pulang sekolah juga masih harus bawa pekerjaan anak-anak ke rumah. Belum lagi
persiapan mengajar. Rasanya lebih capek dari kami yang petani. Berhenti saja.
Kita cari pekerjaan yang lebih baik.” Suaminya tak satu dua kali memintanya
untuk berhenti. Tapi ia enggan. Ia tetap bertahan pada pekerjaan juga generasi
emas dari desanya.
“Cinta pada pekerjaan dan
tanah ini yang membuat saya bertahan sampai saat ini, Sayang. Saya punya kemampuan
di sini. Memang pekerjaan ini tidak dihargai dengan uang yang memadai. Tapi,
saya tahu apa yang saya tanam hari ini akan berbuah suatu hari nanti. Saya tak
berharap ikut menikmati buah itu. Melihat anak-anak didik yang kelak menjadi
orang yang tak menyusahkan orang lain dan bermanfaat bagi negara kita itulah
yang menjadi kepuasan bagi saya.” Kata-kata itulah yang selalu menjadi
jawabannya setiap suaminya meminta ia berhenti dari pekerjaanya.
“Ah, saya cemburu dengan
pekerjaanmu. Kamu lebih mencintai pekerjaanmu yang tak jelas dan tak membawa
keuntungan bagimu daripada saya yang sudah mendampingimu seperempat abad ini.”
“Jangan minta saya untuk
pilih antara kamu dan pengabdian ini, Sayang. Kamu itu separuh hidup saya, sama
juga dengan pekerjaan saya. Kehilangan salah satu akan membuat hidup saya tak
lengkap. Saya percaya, sangat percaya kalau Tuhan lihat apa yang sudah saya lakukan
ini. Ia tidak tidur. Biarpun rasanya tidak mungkin lagi saya diangkat jadi
pegawai negeri karena umur, tapi saya percaya kalau ada hal yang lebih baik
yang Tuhan siapkan.”
Tujuh belas tahun sudah
ia bertahan dengan semua anjuran yang memintanya untuk berhenti. Tapi berbeda
dengan sekarang. Kini ia goyah. Lima anaknya yang beranjak besar tentu
membutuhkan uang yang tidak sedikit. Satu anaknya sedang kuliah semester akhir
yang tentu membutuhkan banyak uang untuk tuntutan kampus pada mahasiswa
semester akhir. Belum selesai pikirannya menimbang bagaimana memenuhi keperluan
anaknya, kini satu anaknya telah lulus SMA dan ingin melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi. Ia tidak mau menunggu kakaknya selesai dulu. Ibu Nita pun tak
mau meredupkan semangat anaknya untuk bersekolah. Meski hidup berkekurangan, namun
ia bertekad agar anak-anaknya harus punya impian yang tinggi untuk dicapai, tentunya
didukung oleh pendidikan yang baik.
Ia menimbang-nimbang
dalam hatinya. Umurnya sudah memasuki dua tahun dari kepala empat. Tak mungkin
rasanya berharap diangkat menjadi pegawai negeri. Pekerjaan yang ia jalani
rasanya seperti menegakkan benang basah. Tak ada gunanya untuk menunggu dan
mengharapkan pengangkatan dirinya ke tingkat yang lebih baik. Rasanya ia tak
bisa bertahan lagi lebih lama. Kecintaannya pada anak didik dan pekerjaannya
mulai meredup seiring dengan kuatnya tangisan anak-anaknya yang meminta agar kebutuhannya
dipenuhi.
Sekuat tenaga Ibu Nita
melangkahkan kaki dengan berat menuju ruang kepala sekolah. Di tangannya
tergenggam sepucuk surat yang tak pernah ia sangka akan ia berikan pada tempat
yang ia cintai ini. Entah lembaran ke berapa yang ia pegang. Lembaran-lembaran
lainnya sudah basah dengan air mata saat ia tulisi.
Perlahan ia mengetuk
pintu.
“Permisi, Bapak.”
“Oh, iya. Ibu Nita,
silakan masuk. Ada apa Ibu?” Pak Pius memakai kaca matanya dan mempersilakan
Ibu Nita untuk masuk ke ruangannya.
“Begini Bapak, maksud
saya datang menghadap Bapak. Emm… sebenarnya ada hal penting yang ingin saya
bicarakan dengan Bapak.” Ia mulai memutar otak. Entah hal apa yang harus ia
katakan pada sosok yang ia hormati di depannya. Beliau adalah sosok yang
membuatnya bertahan belasan tahun dengan upah kecil karena dukungan yang selalu
diterimanya. Beliau bukan sekadar pimpinan baginya dan teman-teman guru honorer
di SDN Kemiri. Beliau layaknya orang tua dan motivator bagi mereka.
“Iya. Bagaimana Ibu? Ada
yang bisa saya bantu?” Pak Pius mengernyitkan dahinya.
“Begini, Bapak. Saya mau
mengajukan surat …” Kata-katanya tertahan. Rasanya sulit untuk mengungkapkan
bahwa ia mau mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Oh Ibu, tunggu sebentar.
Saya baru ingat ada kabar penting dari untuk Ibu dan teman-teman guru honorer
yang sudah mengabdi lama.” Pak Pius mendorong kaca mata ke atas rambut putihnya.
Ibu Nita kaget sekaligus
penasaran kabar apa yang akan ia terima. Apakah dinas memang sudah berniat
memberhentikannya sebelum ia memintanya? Apakah dinas menginginkannya untuk
dipindahkan? Atau? Banyak pertanyaan memenuhi pikirannya.
“Begini Ibu. Badan
Kepegawaian Daerah beberapa bulan lalu meminta saya memasukkan nama-nama guru
yang sudah mengabdi minimal 10 tahun di sini. Nah, kemarin Bapak Bupati rupanya
sudah menandatangani SK kontrak daerah tahun ini untuk 120 guru kontrak yang di
antaranya ada nama Ibu dan dua teman guru lainnya. Ibu, Pak Idel, dan Pak Jeri
sudah resmi menjadi guru kontrak yang digaji lewat kabupaten kita.
“Benarkah Bapak? Saya
seperti tidak percaya mendengar kabar yang Bapak sampaikan. Ini harapan saya
dan teman-teman guru selama ini,” tanya Ibu Nita untuk memastikan apa yang ia
dengar.
“Benar, Ibu. Ibu bisa
lihat sendiri SK-nya yang sedang saya baca ini. Ada nama Ibu, Pak Maxi, dan bertiga.
Oh iya, karena ini sudah bulan Oktober, gaji bulan-bulan sebelumnya akan
dirapel satu kali setelah berkas masuk ke dinas. Saya ucapkan selamat, Ibu.
Tuhan mendengar doa dan melihat kecintaan Ibu bagi sekolah ini. Semoga kabar ini
bisa menambah semangat Ibu dan teman-teman guru lainnya untuk bekerja dengan
lebih baik.”
Sujud dan doa penuh
dengan ucapan syukur ia ucapkan lagi saat tiba di rumah. Ia memang telah
menanti kabar ini, namun ia tidak pernah menduga kabar ini akhirnya datang pada
waktu yang tepat.
Menjelang malam, Ibu Nita
sudah selesai menyiapkan makanan untuk seisi rumahnya. Nasi jagung dengan
sedikit sayur daun kelor yang ia petik di belakang rumah. Telur dari ayam
peliharaan juga dimasaknya untuk lauk malam itu.
Mendengar langkah kaki
suaminya yang baru pulang dari kebun, ia bergegas menuju ke luar rumah dan
menyambut suaminya. Ia memeluk suaminya dengan erat dan berkata, “Sayang,
terima kasih karena kamu sangat mencintai saya. Kamu mendukung keputusan saya untuk
bertahan pada pekerjaan ini hingga saya dapat menuai hasilnya bagi keluarga
kita. Teruslah bersama saya menjalani kejutan-kejutan lain yang Tuhan sudah
siapkan bagi kita.”
Doa, iman, dan cinta akan
melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan dunia.
Untuk para pahlawan tanpa tanda jasa
di pelosok Indonesia.
Atambua, 21 November 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar